shaf yang hilang
2 minggu berlalu.. terkadang aku masih melihat bekas air di sudut mata mbak kiki. tak jarang aku melihat ibu memandangi fotomu dengan tatapan kehilangan. sesekali aku melihat bapak menatap motor kesayanganmu dengan tatap yang…ah, entah, aku tak dapat mendeskripsikannya. aku? masih suka menangis sembunyi-sembunyi di kamar mandi, atau di saat aku memainkan handphone-ku dan menatap foto-fotomu yang ada di dalamnya. atik? mungkin saja ia lebih mudah meluapkan dukanya akan kehilanganmu. yang jelas, kami memang kehilanganmu.
2 minggu berlalu.. hal yang sangat terasa adalah saat shalat berjama’ah di rumah. biasanya kamu berada di antara kami (aku, ibu, mbak kiki, atik) dan imam (bapak). kini, tak ada lagi shaf penghubung itu. satu shaf telah hilang. shaf yang biasanya diisi oleh hadirmu seorang. di akhir ritual shalat berjama’ah, aku kehilangan satu orang yang harus kucium tangannya setelah shalat usai. kemudian tak ada lagi yang secara sengaja menarik mukenaku bila aku hendak beranjak meninggalkan tempat shalat menuju kamarku.
2 minggu berlalu, dan ketiadaanmu masih begitu terasa dan akan selalu terasa entah hingga kapan..
Pam, aku sungguh mencintaimu. kami begitu mencintaimu..
kamu, pemilik shaf yang hilang.. semoga ALLAH memeliharamu sebaik mungkin, menjadikanmu kecintaanNYA.. amiin.







